Dan kali ini saya akan membahas masalah fotografer masa kini (tepuk tangan). Berasa udah pro aja.
Yap, di akhir bulan ramadhan dan menuju libur lebaran ini, saya sekeluarga memiliki niatan untuk ikut seperti puluha juta rakyat Indonesia lainnya, mudik!
Dan kalo momen seperti ini ga dimanfaatkan untuk hunting sekalian kan sayang sekali, jadi saya memutuskan untuk mudik sekalian hunting foto.
Saya berniat, agar 400D saya yg pegang adek aja, toh hitung-hitung dia belajar, dia juga sudah mulai mengerti sedikit. Dan gantinya, saya mau memakai EOS 300 lungsuran bokap, dilengkapi dengan film slide, biar makin mantap.
Tapi setelah tanya sana sini (*anind), ternyata film slide sudah sangat sulit untuk didapatkan. Kecewa, karena seumur-umur belajar pake semi-digital dulu, belom pernah jajal slide.
Lalu hal tersebut membawa gw ke masa sekarang, dimana zaman sudah enak sekali. Tiba-tiba dunia dan mall dipenuhi fotografer hebat. Ga tanggung-tanggung, langsung bawa middle end, lensa juga professional punya. Sedang gw? Ring merah masih khayalan.
Dan dunia maya dipenuhi foto-foto mereka yang terkesan, vivid? Atau foto tampang sendiri yang kemudian di photoshop ekstrim. (Btw itu avatar gw hasil scan dari foto film loh
Kemudian bikin gw berpikir, pernah ga ya mereka merasakan seperti kita dulu? Bela-belain cetak contact print, cropping ditandain di film, scan di kompi biar bisa di terangin sedikit (under
Kesulitan-kesulitan jaman dulu itu terkadang ngangenin.
Fuh, nampaknya mesti makin mendekatkan diri pada RAW yang maha esa.
Sudah ah makin ngelantur.
Just missing the old days guys.










--
B/c we all smile in the same language...
--
dee
Ane watch balik ya.
--
dee
--
Computer games don't affect kids... if PAC-MAN had affected us as kids, we'd all be running around in dark neoned rooms, munching pills and listening to repetitive electronic music.
--
dee
--
regard
diazmahendra
visit my deviant - [link]
diazmahendra.com
--
dee
Previous Page12345Next Page